Jumat, 27 Mei 2011

Seberapa bermanfaatkah bimbingan pengisian waktu luang dari segi kebutuhan sosial?

Seberapa bermanfaatkah bimbingan pengisian waktu luang dari segi kebutuhan sosial?
Pengisian waktu luang tidak hanya bermanfaat bagi pelakunya sendiri, tetapi juga mempunyai fungsi dari segi kebutuhan sosial. Fungsi – fungsi tersebut antara lain:

0   Meningkatkan kembali daya kerja sehingga meningkatkan prestasi anak. Hubungan waktu luang dengan prestasi adalah pada fungsinya yang mengembalikan daya kerja sehingga memulihkan daya produksi kembali. Bila terdapat pengisian waktu luang, maka kelelahan dan kebosanan anak akan hilang. Waktu luang pun yang diisi dengan istirahat atau dengan adanya hiburan dapat membuat kepuasan yang mengakibatkan peningkatan prestasi anak.

0   Menambah konsumsi sehingga meningkatkan lapangan kerja. Hubungan waktu luang dengan peningkatan konsumsi dan peningkatan lapangan kerja adalah pada hubungan sebab-akibat yang ditimbulkan dari pengisian waktu dengan menggunakan fasilitas – fasilitas yang ada sehingga sarana tersebut harus diproduksi. Pengisian waktu luang dapat dilakukan dengan memanfaatkan hiburan – hiburan yang ada dengan hiburan aktif seperti olahraga dan dengan hiburan pasif seperti televisi atau video game. Fasilitas yang ada dari televisi misalnya, dapat menimbulkan lapangan kerja baru karena adanya acara – acara hiburan yang semakin banyak dibuat untuk pengisian waktu luang. Semakin banyak anak menggunakan fasilitas dalam mengisi waktu luang, maka semakin banyak pula lapangan kerja yang akan dibentuk untuk membuat fasilitas – fasilitas tersebut.

0   Mengurangi kriminalitas dan kenakalan. Hubungan waktu luang dengan kejahatan adalah karena apabila pengisian waktu luang dengan kegiatan positif, maka akan menghilangkan kegiatan – kegiatan negatif dan kenakalan. Waktu luang yang terbatas akan cenderung diisi dengan kegiatan – kegiatan yang tidak berarti yang bersifat aktif maupun pasif yang dapat merusak moral dan terlebihnya dapat meningkatkan kriminalitas. Oleh karena itu, pengisian waktu luang sebaiknya dengan melakukan kegiatan – kegiatan positif yang terarah yang dapat mengakibatkan kesibukan pada waktu luang tersebut. Dengan pengisian waktu luang maka anak akan memiliki kesibukan sendiri dan akan fokus terhadap kegiatannya sehingga tidak akan terjadi kenakalan anak – anak.

0   Meningkatkan kehidupan masyarakat. Hubungan waktu luang dengan peningkatan mutu bermasyarakat adalah pada perkembangan yang akan terjadi pada masyarakat tersebut. Berbagai kegiatan sosial atau hiburan seperti rekreasi yang dilakukan secara kelompok utnuk mengisi waktu luang dapat meningkatkan hubungan antar pribadi dan solidaritas antar anggota maupun antar kelompok. Dengan demikian, kegiatan sosial yang ada di masyarakat dapat meningkatkan perkembangan manusiawi dan keterkaitan antar anggota masyarakat tersebut.

Bimbingan pengisian waktu luang sangat bermanfaat dalam ruang lingkup sosial karena dengan adanya bimbingan dalam pengisian waktu luang tersebut, pelaku dan anggota sosial disekitarnya karena berfungsi untuk meningkatkan kembali daya kerja sehingga meningkatkan prestasi anak, menambah konsumsi sarana yang digunakan dalam pengisian waktu luang sehingga meningkatkan lapangan kerja, mengurangi kriminalitas dan kenakalan yang dapat terjadi akibat dari kegiatan negatif yang dilakukan dalam waktu luang, meningkatkan kehidupan masyarakat yang mengisi kegiatan sosial dalam waktu luang.

Selasa, 03 Mei 2011

Testimoni terhadap perkuliahan 3 Mei 2011 "Paedagogi"

Diawal perkuliahan, bu dina memberikan instruksi kepada kami agar berkumpul di sisi belakaang ruangan.  Kami semua disuruh  membentuk lingkaran.
Bu dina menyuruh kami mendegarkan lagu becak yang dari awal telah dihidupkan kemudian kami  disuruh mengikuti gerakan yang diperagakan bu dina. Gerakan dasar seperti tarian ataupun aerobik yang sesuai dengan rentakan nada lagu becak tersebut.                                                            
Kemudian dengan mengikuti peragaan bu dina, kami menari bersama – sama. Setelah itu bu dina menyuruh kami membagi menjadi dua kelompok berdasarkan nomor hitung kami dan masing – masing membuat lingkaran baru yang lebih kecil.                                                                   
Kali ini bu dina menghidupkan lagi lagunya dan membiarkan kami menari tanpa peragaan dari bu dina, pada masing – masing lingkaran dipastikan ada seorang sebagai komandonya. Kami lakukan hingaa dua kali pengulangan lagunya. Setelah selesai, kami kembali ke tempat duduk masing – masing.

Kesan saya terhadap pembukaan awal perkuliahan ini. Pertama, dari lagunya saja sudah mengingatkan ke masa anak – anak dulu yang berkaitan dengan materi perkuliahan hari ini, yaitu paedagogi. Kedua, tarian yang saya lakukan bersama – sama teman yang lain membuat saya fun dan lebih bersemangat, menjadi lebih relaks dan pastinya suasana tidak tegang (kaku). Ketiga, dalam hal ini dapat mengajarkan kami untuk mengikuti dan melakukan instruksi yang diberikan agar kami mendapatkan tujuan yang diinginkan, yaitu gerakan tarian secara bersama – sama, apabila kami tidak mengikuti instruksi untuk menari sesuai irama tidak akan terjadi kekompakan. Keempat, dapat membuat kami mau saling bekerja sama  sehingga akan terjadi kekompakan dalam bergerak bersama – sama.  

Senin, 02 Mei 2011

Suasana belajar seperti apakah yang dapat mendorong peserta didik orang dewasa termotivasi untuk belajar?


Agar dapat menciptakan motivasi peserta didik dalam belajar, maka pendidik harus dapat menciptakan suasaba belajar yang positif. Mungkin para peserta didik yang telah dewasa mempunyai pengalaman belajar yang tidak menyenangkan selama sekolah, atau mungkin kembali menjadi pelajar yang pasif seperti waktu masih anak – anak. Karena itu perlu diperhitungkan ciri – ciri peserta didik orang dewasa yang memiliki pengalaman saat masih anak – anak dulu dan hendaknya mendorong mereka untuk tidak bergantung pada orang lain, berorientasi pada aplikasi, dan mengenali adanya perbedaan individual. Pendidik hendaknya memberikan asosiasi kepada peserta didik orang dewasa, bahwa apa yang mereka pelajari dan mereka terapkan sebagian besar adalah tanggung jawab mereka, dan bahwa kekuasaan untuk mengharuskan mereka belajar ada di tangan mereka.                                                                               
Agar tercipta suasana belajar yang beorientasi manusia dewasa, paling tidak dalam mengajar pendidik dapat menyadarkan bahwa nantinya peserta didik akan mempraktekkan hal – hal yang dipelajari dalam kehidupan nyata, mengakui terus terang sejak dari permulaan, bahwa suksesnya program pendidikan ini adalah hasil kerjasama peserta dan pengajar, menciptakan suasana pemecahan masalah orang dewasa di dalam kelas, bersikap empati dengan menunjukkan bahwa pengajar memahami situasi perasaan dan kebutuhan para peserta didik, serta dapat menggugah argumentasi peserta, tetapi setelah pendidik dapat bersikap empati dan menghormati peserta didik orang dewasa.   

Selain suasana belajar, yang perlu diperhatikan agar memelihara motivasi belajar adalah materi pelajaran, format pelajaran, urutan pelajaran, sikap, pandangan dan prioritas terhadap pelajaran. Dengan begitu, dapat mendorong keinginan peserta didik untuk belajar dan menerapkan hasil belajarnya.                                       
Materi pelajaran hendaknya sebagai sumber motivasi dan sebaiknya bersifat menarik, atau memenuhi rasa ingin tahu, dan memiliki hubungan yang erat dengan penerapan dalam kehidupan nyata. Perlu diperhatikan bahwa ada pebedaan individual dalam kesukaan atau gaya belajar para peserta didik. Jadi dalam menyiapkan pelajaran, sedapat mungkin digunakan format yang beragam untuk menyajikan informasi proses belajar berstruktur. Suasana belajar dan cara pengajaran pendidik memiliki nilai penting Karena usaha apa pun yang dilaksanakan oleh pendidik, akan sia – sia bila peserta didik tidak memanfaatkan atau menerapkan dalam dunia nyata.    

Daftar Pustaka
Sukadji, S. (2000).Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok:Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Senin, 25 April 2011

Perbedaan Psikologi Sekolah dengan Psikologi Pendidikan dan ruang lingkup serta perannya


Pengertian Psikologi sekolah
Psikologi sekolah merupakan ilmu terapan dari psikologi pendidikan yang hanya berfokus pada sekolah dan bidang – bidangnya di sekolah, terutama terhadap murid.
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi yang bertujuan untuk membentuk pola pikir anak.

Pengertian Psikologi Pendidikan
Menurut santrock, psikologi pendidikan adalah cabang psikologi yang mengkhususkan diri pada pemahaman tentang proses belajar dan mengajar dalam lingkungan pendidikan.
Secara harfiah atau etimologis, psikologi berasal dari kata "psyche" yang berarti jiwa dan "logos" yang berarti ilmu. Psikologi mengandung makna yaitu ilmu jiwa yang berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari jiwa manusia melalui gejala-gejalanya, aktivitas-aktivitasnya atau perilaku manusia. Psikologi pendidikan berarti cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari jiwa manusia atau perilaku manusia di bidang pendidikan.
Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam bidang pendidikan, keefektifan dalam proses pembelajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.

Dari pengertian psikologi pendidikan dan psikologi sekolah itu sendiri, dapat dilihat perbedaan bahwa psikologi pendidikan adalah  cabang ilmu psikologi yang mempelajari jiwa manusia dalam bidang pendidikan serta gejala – gejala di bidang pendidikan. Sedangkan psikologi sekolah adalah ilmu terapan dari psikologi pendidikan yang lebih mengkhususkan diri lagi hanya di dalam lingkungan sekolah, dalam proses pembelajaran dan pengajaran dan lebih secara detail memahami jiwa dan perilaku manusia di dalamnya terutama terhadap murid.


Ruang Lingkup Psikologi Sekolah
Pelaksanaan psikologi disekolah:
-    Pelaksanaan tes;
-    Melakukan wawancara dengan siswa, guru, orangtua, serta orang-orang yang terlibat dalam pendidikan siswa;
-    Observasi siswa di kelas, tempat bermain, serta dalam kegiatan sekolah lainnya;
-    Mempelajari data kumulatif prestasi belajar siswa.

 (Jack I. Baron (1982)
Peran Psikologi Sekolah ditinjau dari bidang – bidang terapan:
Psikodiagnostik: meliputi pelayanan tes kecerdasan, kemudian pemberian laporan tertulis yang memberi gambaran kelemahan dan kekuatan yang terungkap oleh tes tersebut.
Klinis dan konseling: perhatian psikolog sekolah terhadap anak didik bersifat menyeluruh, yang mana membantu pihak sekolah dalam menyelesaikan berbagai masalah kesmen yang dihadapi anak. Pada tingkat ini peran psikolog erat dengan masalah kelompok dalam kelas dan masalah yang berkaitan dengan kelas.
Indusrti dan organisasi: dalam hal ini psikolog ikut terlibat dalm tindakan yang menyangkut kebijakan dan prosedur sekolah, dalam pengembangan dan evaluasi program serta pelayanan sekolah,dapat berupa; supervisi, pendidikan, konsulatan bagi kariawan edukatif maupun nonedukatif (membantu malakukan seleksi, penempatan, serta urusan-urusan personalia lain), dan bekarja sama dengan ahli-ahli lain dalam masyarakat.

Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

(La Sulo, 1990:16).
Dalam peninjauan secara statis, kajian psikolog tentang siswa dalam situasi pendidikan mencakup kajian tentang gejala-gejala jiwa atau aktivitas dan tingkah laku yang umum yang terdapat pada manusia umumnya, yaitu perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, berfikir sikap, minat, motivasi, inteligensi, dan sebagainya dan kajian tentang perbedaan-perbedaan individual antar individu-siswa yang mencakup perbedaan dari segi kepribadian, inteligensi, bakat, minat, dan sebagainya. Sedangkan dalam peninjauan secara dinamis, yaitu mencakup kajian psikologi tentang individu siswa dalam proses pendidikan, yakni perubahan tingkah laku dan cara – cara penilaiannya di dalam pendidikan yang mencakup: (1) perubahan perilaku karena pertumbuhan dan perkembangan; atau karena peserta didik mengalami proses pematangan dan pendewasaan, (2) perubahan perilaku karena belajar yang merupakan faktor terpenting dalam proses pendidikan dan pembelajaran, (3) cara-cara mengukur atau mengevaluasi pencapaian karena perubahan-perubahan tersebut.
Selain itu, peran psikologi pendidikan juga mencakup kajian-kajian tentang hal-hal lain yang erat kaitannya dengan situasi dan proses pendidikan, yaitu kajian tentang bimbingan dan konseling, kajian psikologis terhadap individu yang mengalami penyimpangan psikis (jiwa), sosial, dan fisik, kajian tentang implikasi dari prinsip pendidikan yang menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada sistem persekolahan tetapi pendidikan dapat dilakukan di luar sistem persekolahan, misalnya pendidikan untuk orang dewasa, dan kajian psikologis tentang bahan pengajaran yang seharusnya dipilih dan diorganisasikan sedemikian rupa agar dapat diserap oleh peserta didik.
Psikologi pendidikan berperan penting dalam peningkatan mutu siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi kedalam dunia pendidikan. Psikologi dengan objek manusia (tingkah laku), sedangkan pendidikan berorientasi pada perubahan perilaku siswa, cocok untuk dipadukan dengan harapan mendapatkan perilaku siswa yang diinginkan. 

Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta

Senin, 18 April 2011

Apakah tujuan dari bimbingan sekolah?


Tujuan dari bimbingan sekolah dibedakan kepada tiga tujuan, yaitu tujuan remedial, tujuan preventif dan tujuan yang bersifat meningkatkan perkembangan.
Tujuan remedial ialah tujuan yang diarahkan agar siswa berfungsi pada tingkat kemampuannya sendiri. Contohnya, siswa yang terlalu cemas dalam menghadapi suatu situasi (situasi ujian, misalnya) dianggap perlu mendapatkan bantuan untuk membuatnya mampu dalam menghadapi situasi – situasi yang ada di sekolah, tepatnya selama masa pendidikan. Tujuan remedial ini merupakan tujuan yang berkaitan dalam menghilangkan sifat – sifat negatif siswa.
Tujuan reventif pada dasarnya adalah usaha mengurangi kebutuhan untuk intervensi konseling remedial. Ini dapat dicapai dengan cara membuat tidak diperlukannya intervensi remedial atau dengan jalan mengurangi taraf gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh siswa – siswa yang memang butuh perhatian. Dengan demikian tercapainya tujuan ini dapat menghemat tenaga, waktu dan dana yang diperlukan untuk intervensi remedial. Contohnya, adanya latihan pengembangan pribadi atau latihan keterampilan sosial (social skill)  bagi murid – murid, dapat mencegah keonaran yang disebabkan konflik – konflik antar siswa atau antara siswa dengan guru.
Sedangkan tujuan yang sifatnya meningkatkan perkembangan, pusat perhatiannya adalah membantu siswa mencapai kemampuan psikologis semaksimal mungkin sesuai tingkat perkembangan pada usianya. Tujuan perkembangan, termasuk tujuan pertumbuhan, mengarah pada hubungan antar pribadi yang lebih mendalam dan lebih diperkaya, dalam masalah pemanfaatan waktu luang, dan dalam peningkatan peri kemanusiaan.
Dalam konseling, seringkali tercapainya tujuan remedial tercapai pula beberapa perkembangan. Sebaliknya, tujuan remedial yang dipersyaratkan. Ada kalanya tujuan perkembangan termasuk meningkatkan fungsi siswa di atas normal kelompoknya, karena itu tujuan remedial prasyarat perlu dipenuhi. Tujuan remedial pun diperlukan sebagai intervensi dari tujuan reventif. Maka, tujuan remedial yang memenuhi tujuan – tujuan lainnya di dalam bimbingan konseling di sekolah.

Daftar Pustaka
Sukadji, S. (2000).Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok:Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Senin, 11 April 2011

Apakah terdapat jenis – jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak? Apa sajakah itu?


Gangguan dan masalah bicara dan bahasa pada anak bermacam - macam, tergantung kesulitan dan gangguan yang diderita anak tersebut, gangguan - gangguannya antara lain: 

·   Gangguan Artikulasi, yaitu masalah dalam pengucapan suara secara benar. Anak penderita gangguan artikulasi mungkin sulit berkomunikasi dengan teman atau guru dan merasa malu. Akibatnya, anak penderita artikulasi ini enggan bertanya, tidak mau berdiskusi, atau berkomunikasi dengan temannya. 
·   Gangguan suara, yaitu masalah pada anak yang berbicara dengan tidak jelas, keras atau terlalu kencang yang tampak dalam ucapan suaranya. Begitu pula anak – anak yang berbibir sumbing, sulit dimengerti apa yang dikatakannya.
·    Gangguan kefasihan, yaitu masalah pada anak yang berbicara lamban atau biasa disebut gagap. Kondisi ini terjadi ketika ucapan anak terbata – bata, jeda panjang, atau berulang – ulang. Terkadang, anak – anak penderita gangguan ini merasa kecemasan karena gangguan yang dideritanya ini (gagap) sehingga membuat kondisi mereka semakin parah.
Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman atas bahasa. Anak penderita gangguan bahasa reseptif akan kesulitan untuk menerima informasi, informasi masuk tetapi otak akan sulit untuk memerosesnya secara efektif yang menyebabkan anak kelihatan cuek atau bengong saja.
Bahasa ekspresif adalah kemampuan anak dalam menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan berkomunikasi dengan orang lain. Anak – anak penderita gangguan bahasa ekspresif akan kesulitan untuk memberikan tanggapan atau mengekspresikan pendapatnya.                                   

Anak penderita gangguan bahasa dan suara akan kesulitan dalam berkomunikasi dengan orangtua, guru dan temannya. Maka, dibutuhkan pengajaran khusus dalam masa pendidikan mereka dan penanganan khusus juga untuk dapat merawatnya selama menderita gangguan berbicara tersebut. Dan gangguan yang diderita anak pun dapat diperbaiki dengan terapi bicara dan suara agar dapat membantu anak untuk berkomunikasi sehingga memudahkannya untuk berinteraksi. 

Daftar Pustaka
Sukadji, S. (2000).Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok:Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia 

Selasa, 05 April 2011

Diskusi tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia

Coba cari fakta tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia yang tidak terlepas dari hal keluarga dan lingkungan melalui jurnal2 di internet  minimal 3 fenomena, kemudian bahas dengan minimal 1 teori psikologi pendidikan, 1 teori psikologi  keluarga dan 1 teori bimbingan sekolah

Fenomena pertama tentang sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang ada di Indonesia bersifat mencetak" manusia penurut", buktinya:
1. Adanya Penyeragaman
2. Mau "muncul" tetapi dikekang oleh adanya Kurikulum
3. Mau "lari" tetapi dikekang oleh adanya penjadwalan yang ketat
4. Model belajar "menghafal" dan "mengulang"

Karena sistem pendidikan ini, dampak yang akan terjadi terhadap murid adalah:
1. Hilangnya kemampuan kognitif dari anak
2. Kreativitas siswa berkurang
3. Talenta siswa banyak yang tidak diketahui (selain belajar)

Manusia penurut ini maksudnya sistem pembelajaran di sekolah menjadi hanya bergantung pada kurikulum saja, sedangkan seharusnya lebih bisa berkembang lagi pemikirannya tidak harus mengikuti kurikulum walaupun kurikulum sangat penting sebagai batasan atau standardisasi dalam sistem pendidikan.

William James dan John Dewey mencetuskan sistem konstruktivisme, sistem yang menekankan agar individu secara aktif membangun pemahaman dan pengetahuan. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekadar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Namun, guru juga harus tetap mengontrol anak-anak agar mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan hasil yang baik dan dapat meraih prestasi.
Dengan sistem kontruktivisme ini, guru dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam hal yang dikuasainya dengan standardisasi kurikulum yang telah ditetapkan. Jadi, anakpun akan memiliki kemampuan kognitif yang lebih meningkat dan akan tampak talenta anak – anak tersebut.

Fenomena kedua tentang fakta psikologi pendidikan di sekolah. Ini tentang pengajar, guru adalah seseorang yang biasanya ditiru oleh murid. Tapi faktanya ada guru yang terlambat masuk kelas dan terkadang keluar kelas sebelum bel, bahkan ada juga guru yang menunda untuk menjawab pertanyaan murid yang dapat membuat pandangan murid buruk terhadap guru tersebut atau dapat menjatuhkan nama guru tersebut dan menganggap gurunya kurang mampu.
Menurut  survei nasional terhadap murid berusia antara 13 sampai 17 tahun tentang karakter penting yang harus dipunyai oleh seorang guru dalam buku psikologi pendidikan, Santrok.
Karakteristik 

·
         Membuat kelas menjadi menarik                            
·
         Menguasai mata  
·         Punya selera humor                                                                                                                             ·         Menerangkan secara jelas                                      
·
         Mau meluangkan waktu untuk membantu murid       
·
         Bersikap adil kepada murid                                      
·
         Memperlakukan murid seperti orang dewasa        
·
         Berhubungan baik dengan murid                            
·
         Memperhatikan perasaan murid                            
·
         Tidak pilih kasih                        
Oleh karena itu, seharusnya guru sebagai pengajar harus dapat menjadi contoh untuk muridnya, agar dapat menjadikan murid – muridnya berprilaku yang baik, guru seharusnya mengajarkan muridnya agar menjadi disiplin, dan muridpun mau menerapkan kebiasaan yang dilakukan guru. Dan harus bisa menguasai dan mengontrol keadaan kelas seperti yang diharapkan murid – muridnya.

Ketiga, fenomena psikologi pendidikan yang tidak terlepas dari keluarga. Tidak jarang fenomena pada anak yang berasal dari keluarga broken home terganggu prestasinya di sekolah terjadi, kemungkinan hanya 20:1 anak yang dapat mengontrol sekolahnya dan dapat menyeimbangkan psikologisnya agar tidak terganggu oleh keadaan yang terjadi di rumah.
Peran guru di sekolah sebagai pemerhati prestasi murid seharusnya lebih besar dalam memperhatikan prestasi murid yang diketahui sebagai  “korban” broken home, share yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana suasana hati muridnya pun juga berperan penting agar lebih membantu murid tersebut dalam mengatasi perasaan yang dialaminya saat berada di rumah dengan keadaan yang tidak nyaman.

Daftar Pustaka

Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta