welcome.. welcome..


WELCOME

Senin, 18 April 2011

Apakah tujuan dari bimbingan sekolah?


Tujuan dari bimbingan sekolah dibedakan kepada tiga tujuan, yaitu tujuan remedial, tujuan preventif dan tujuan yang bersifat meningkatkan perkembangan.
Tujuan remedial ialah tujuan yang diarahkan agar siswa berfungsi pada tingkat kemampuannya sendiri. Contohnya, siswa yang terlalu cemas dalam menghadapi suatu situasi (situasi ujian, misalnya) dianggap perlu mendapatkan bantuan untuk membuatnya mampu dalam menghadapi situasi – situasi yang ada di sekolah, tepatnya selama masa pendidikan. Tujuan remedial ini merupakan tujuan yang berkaitan dalam menghilangkan sifat – sifat negatif siswa.
Tujuan reventif pada dasarnya adalah usaha mengurangi kebutuhan untuk intervensi konseling remedial. Ini dapat dicapai dengan cara membuat tidak diperlukannya intervensi remedial atau dengan jalan mengurangi taraf gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh siswa – siswa yang memang butuh perhatian. Dengan demikian tercapainya tujuan ini dapat menghemat tenaga, waktu dan dana yang diperlukan untuk intervensi remedial. Contohnya, adanya latihan pengembangan pribadi atau latihan keterampilan sosial (social skill)  bagi murid – murid, dapat mencegah keonaran yang disebabkan konflik – konflik antar siswa atau antara siswa dengan guru.
Sedangkan tujuan yang sifatnya meningkatkan perkembangan, pusat perhatiannya adalah membantu siswa mencapai kemampuan psikologis semaksimal mungkin sesuai tingkat perkembangan pada usianya. Tujuan perkembangan, termasuk tujuan pertumbuhan, mengarah pada hubungan antar pribadi yang lebih mendalam dan lebih diperkaya, dalam masalah pemanfaatan waktu luang, dan dalam peningkatan peri kemanusiaan.
Dalam konseling, seringkali tercapainya tujuan remedial tercapai pula beberapa perkembangan. Sebaliknya, tujuan remedial yang dipersyaratkan. Ada kalanya tujuan perkembangan termasuk meningkatkan fungsi siswa di atas normal kelompoknya, karena itu tujuan remedial prasyarat perlu dipenuhi. Tujuan remedial pun diperlukan sebagai intervensi dari tujuan reventif. Maka, tujuan remedial yang memenuhi tujuan – tujuan lainnya di dalam bimbingan konseling di sekolah.

Daftar Pustaka
Sukadji, S. (2000).Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok:Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Senin, 11 April 2011

Apakah terdapat jenis – jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak? Apa sajakah itu?


Gangguan dan masalah bicara dan bahasa pada anak bermacam - macam, tergantung kesulitan dan gangguan yang diderita anak tersebut, gangguan - gangguannya antara lain: 

·   Gangguan Artikulasi, yaitu masalah dalam pengucapan suara secara benar. Anak penderita gangguan artikulasi mungkin sulit berkomunikasi dengan teman atau guru dan merasa malu. Akibatnya, anak penderita artikulasi ini enggan bertanya, tidak mau berdiskusi, atau berkomunikasi dengan temannya. 
·   Gangguan suara, yaitu masalah pada anak yang berbicara dengan tidak jelas, keras atau terlalu kencang yang tampak dalam ucapan suaranya. Begitu pula anak – anak yang berbibir sumbing, sulit dimengerti apa yang dikatakannya.
·    Gangguan kefasihan, yaitu masalah pada anak yang berbicara lamban atau biasa disebut gagap. Kondisi ini terjadi ketika ucapan anak terbata – bata, jeda panjang, atau berulang – ulang. Terkadang, anak – anak penderita gangguan ini merasa kecemasan karena gangguan yang dideritanya ini (gagap) sehingga membuat kondisi mereka semakin parah.
Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman atas bahasa. Anak penderita gangguan bahasa reseptif akan kesulitan untuk menerima informasi, informasi masuk tetapi otak akan sulit untuk memerosesnya secara efektif yang menyebabkan anak kelihatan cuek atau bengong saja.
Bahasa ekspresif adalah kemampuan anak dalam menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan berkomunikasi dengan orang lain. Anak – anak penderita gangguan bahasa ekspresif akan kesulitan untuk memberikan tanggapan atau mengekspresikan pendapatnya.                                   

Anak penderita gangguan bahasa dan suara akan kesulitan dalam berkomunikasi dengan orangtua, guru dan temannya. Maka, dibutuhkan pengajaran khusus dalam masa pendidikan mereka dan penanganan khusus juga untuk dapat merawatnya selama menderita gangguan berbicara tersebut. Dan gangguan yang diderita anak pun dapat diperbaiki dengan terapi bicara dan suara agar dapat membantu anak untuk berkomunikasi sehingga memudahkannya untuk berinteraksi. 

Daftar Pustaka
Sukadji, S. (2000).Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok:Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia 

Selasa, 05 April 2011

Diskusi tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia

Coba cari fakta tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia yang tidak terlepas dari hal keluarga dan lingkungan melalui jurnal2 di internet  minimal 3 fenomena, kemudian bahas dengan minimal 1 teori psikologi pendidikan, 1 teori psikologi  keluarga dan 1 teori bimbingan sekolah

Fenomena pertama tentang sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang ada di Indonesia bersifat mencetak" manusia penurut", buktinya:
1. Adanya Penyeragaman
2. Mau "muncul" tetapi dikekang oleh adanya Kurikulum
3. Mau "lari" tetapi dikekang oleh adanya penjadwalan yang ketat
4. Model belajar "menghafal" dan "mengulang"

Karena sistem pendidikan ini, dampak yang akan terjadi terhadap murid adalah:
1. Hilangnya kemampuan kognitif dari anak
2. Kreativitas siswa berkurang
3. Talenta siswa banyak yang tidak diketahui (selain belajar)

Manusia penurut ini maksudnya sistem pembelajaran di sekolah menjadi hanya bergantung pada kurikulum saja, sedangkan seharusnya lebih bisa berkembang lagi pemikirannya tidak harus mengikuti kurikulum walaupun kurikulum sangat penting sebagai batasan atau standardisasi dalam sistem pendidikan.

William James dan John Dewey mencetuskan sistem konstruktivisme, sistem yang menekankan agar individu secara aktif membangun pemahaman dan pengetahuan. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekadar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Namun, guru juga harus tetap mengontrol anak-anak agar mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan hasil yang baik dan dapat meraih prestasi.
Dengan sistem kontruktivisme ini, guru dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam hal yang dikuasainya dengan standardisasi kurikulum yang telah ditetapkan. Jadi, anakpun akan memiliki kemampuan kognitif yang lebih meningkat dan akan tampak talenta anak – anak tersebut.

Fenomena kedua tentang fakta psikologi pendidikan di sekolah. Ini tentang pengajar, guru adalah seseorang yang biasanya ditiru oleh murid. Tapi faktanya ada guru yang terlambat masuk kelas dan terkadang keluar kelas sebelum bel, bahkan ada juga guru yang menunda untuk menjawab pertanyaan murid yang dapat membuat pandangan murid buruk terhadap guru tersebut atau dapat menjatuhkan nama guru tersebut dan menganggap gurunya kurang mampu.
Menurut  survei nasional terhadap murid berusia antara 13 sampai 17 tahun tentang karakter penting yang harus dipunyai oleh seorang guru dalam buku psikologi pendidikan, Santrok.
Karakteristik 

·
         Membuat kelas menjadi menarik                            
·
         Menguasai mata  
·         Punya selera humor                                                                                                                             ·         Menerangkan secara jelas                                      
·
         Mau meluangkan waktu untuk membantu murid       
·
         Bersikap adil kepada murid                                      
·
         Memperlakukan murid seperti orang dewasa        
·
         Berhubungan baik dengan murid                            
·
         Memperhatikan perasaan murid                            
·
         Tidak pilih kasih                        
Oleh karena itu, seharusnya guru sebagai pengajar harus dapat menjadi contoh untuk muridnya, agar dapat menjadikan murid – muridnya berprilaku yang baik, guru seharusnya mengajarkan muridnya agar menjadi disiplin, dan muridpun mau menerapkan kebiasaan yang dilakukan guru. Dan harus bisa menguasai dan mengontrol keadaan kelas seperti yang diharapkan murid – muridnya.

Ketiga, fenomena psikologi pendidikan yang tidak terlepas dari keluarga. Tidak jarang fenomena pada anak yang berasal dari keluarga broken home terganggu prestasinya di sekolah terjadi, kemungkinan hanya 20:1 anak yang dapat mengontrol sekolahnya dan dapat menyeimbangkan psikologisnya agar tidak terganggu oleh keadaan yang terjadi di rumah.
Peran guru di sekolah sebagai pemerhati prestasi murid seharusnya lebih besar dalam memperhatikan prestasi murid yang diketahui sebagai  “korban” broken home, share yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana suasana hati muridnya pun juga berperan penting agar lebih membantu murid tersebut dalam mengatasi perasaan yang dialaminya saat berada di rumah dengan keadaan yang tidak nyaman.

Daftar Pustaka

Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta 

Senin, 14 Maret 2011

Mana yang lebih tepat, tes individual atau tes kelompok?

Tes intelegensi individu yang paling terkenal adalah Skala Stanford-Binet. Alfred Binet bekerja sama dengan mahasiswanya, Theodore Simon untuk membuat instrumen pengukur intelegensi dengan skala pengukuran level umum dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes, yaitu penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak, dan memori jangka pendek pada soal- soal mengenai kehidupan sehari- hari. Skala Stanford-Binet dikenakan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemberi tes. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi, sangat terlatih dalam penyajian tesnya, dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut.Skala ini tidak cocok untuk dikenakan pada orang dewasa, karena level tersebut merupakan level intelektual dan dimaksudkan hanya sebagai batas-batas usia mental yang mungkin dicapai oleh anak-anak. 
Tes intelegensi kelompok mencakup Lorge-Thorndike Intelligence Tests, Kuhlman-Anderson Intelligence Tests, dan Otis-Lennon School Mental Abilities Tests. Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis dibandingkan dengan tes individual, namun juga ada kekurangannya. Saat tes dilakukan pada satu kelompok besar, peneliti tak dapat menyusun laporan individual, menentukan tingkat kecemasan murid, dan sebagainya. Dalam situasi tes kelompok besar, murid mungkin tidak memahami instruksi atau mungkin diganggu \oleh murid lainnya. Karena keterbatasan ini, maka saat akan dibuat keputusan penting menyangkut kemampuan murid, tes intelegensi kelompok harus dilengkapi dengan informasi lain tentang kemampuan murid. Strategi yang sama juga berlaku untuk tes individual, meskipun biasanya kita lebih baik tidak terlalu yakin pada akurasi skor tes intelegensi kelompok. Banyak murid yang mengikuti tes dalam kelompok besar di sekolah, tetapi keputusan untuk menempatkan murid dalam kelas khusus anak penderita retardasi mental, kelas pendidikan khusus, atau kelas anak berbakat, sebaiknya tidak didasarkan pada tes kelompok saja. Dalam kasus seperti itu, informasi relevan tentang kemampuan murid harus diperoleh dengan cara selain menggunakan tes.          Jadi, tes intelegensi individual lebih tepat dibandingkan dengan tes intelegensi kelompok walaupun tes intelegensi individual memiliki kelemahan.

Daftar Pustaka:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta 

Di bawah ini, situs lebih lanjut tentang tes intelegensi dan sejarahnya:

Testimoni terhadap perkuliahan 8 Maret 2011 dan Pandangan tentang materi yang disampaikan


Perkuliahan Psikologi Pendidikan ke- 7 tentang  “Proses kognitif, motivasi dan tujuan instruksional”
Di awal pertemuan, bu dina memperkenalkan kepada kami tentang Johari Window atau sering disebut dengan Jendela Johari, yaitu merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita seseorang. Model ini diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 yang berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
 Kemudian bu dina memberi konstruksi agar masing – masing dari kami berkumpul dengan teman sekelompok dan masing – masing dari kami menilai sifat – sifat teman sekelompok kami, kemudian dihubungkan dengan teori – teori yang ada di buku Santrock.
Disini, saya menghubungkan teori kognitif Vygotsky. Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygtsky: (1) Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara development, (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi dengan alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental, dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.  
Menurut saya, menggunakan pendekatan developmental berarti melihat sifat pada awal bertemu yang kemudian ada sifat – sifat lain yang berkembang setelah lama berteman bersama.            
Klaim kedua, yakni melihat dari bahasanya, cara berbicara dan kata – kata yang digunakan. Sifat- sifat seseorang bisa dinilai dari cara mereka mereka berbicara, kata – kata dan bahasa yang mereka gunakan.          
Dan yang ketiga, bahwa sifat – sifat seseorang berasal dari  relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Dari sosialisasi yang dilakukan seseorang kita bias melihat bagaimana sifatnya, apakah seorang yang tertutup atau terbuka di lingkungan dan sifat seseorang itu dipengaruhi juga oleh latar belakang sosiokultural ataupun dari budayanya. Budaya di rumah dan suku atau keturunan akan terbawa ke dalam sifat seseorang. Dan sifat seseorang dapat mencerminkan budaya orang itu pula.

Daftar Pustaka:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta  

Sabtu, 12 Maret 2011

Senin, 07 Maret 2011

Apakah melalui e-learning peserta didik dapat termotivasi untuk meningkatkan interaksi pembelajaran?


 Salah satu kelebihan e-learning adalah dapat meningkatkan interaksi pembelajaran. Peserta didik dapat berinteraksi langsung, sehingga pemahaman terhadap materi pembelajaran akan lebih bermakna, mudah dipahami, mudah diingat, dan mudah pula untuk diungkapkan kembali.           
Untuk mendapatkan ilmu yang sesuai diharapkan, para peserta didik termotivasi untuk meningkatkan interaksi pembelajaran melalui e-learning.   
Dalam kegiatan pembelajaran elektronik melalui internet, peserta didik yang terpisah satu sama lainnya di samping juga terpisah dari guru merasakan lebih leluasa atau bebas untuk mengungkapkan pendapat atau mengajukan pertanyaan karena ketika pada pembelajaran konvensional di kelas, kesempatan yang ada atau yang disediakan guru untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Ketika pembelajaran melalui e-learning, peserta didik dapat berani dan tidak malu untuk bertanya atau mengungkapkan pendapat karena tidak ada peserta didik lainnya yang secara fisik mengamati dirinya.
Melalui pembelajaran on-line, setiap peserta didik merasakan adanya kebebasan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat dan pemikiran tanpa diiringi oleh perasaan takut dipermalukan dihadapan banyak orang yang disaksikan oleh guru. Iklim pembelajaran dan perasaan peserta didik yang seperti ini akan dapat membuat peserta didik termotivasi untuk meningkatkan kadar interaksi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga hasil belajar lebih optimal.

Daftar Pustaka

Munir. 2008. Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung:
Alfabeta